Google+ Followers






Pandangan Sahabat Nabi Muhammad S.A.W Tentang Ilmu

Pandangan Sahabat Nabi Muhammad S.A.W Tentang Ilmu -

Perkataan Sahabat Tentang Pentingnya Ilmu

Lanjutan Bab KELEBIHAN DARI ILMU  dari kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghozali
Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepada Kumail :
“Hai Kumail!!!  Ilmu itu lebih baik dari pada harta, Ilmu menjaga kamu dan kamu menjaga harta. Ilmu itu penghukum dan harta itu terhukum, Harta berkurang jika dibelanjakan dan ilmu bertambah jika dibelanjakan (diamalkan)
Ali Ra pula berkata :
Orang berilmu itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, bershalat dan berjihad. Apabila meninggal orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan dalam islam, yang tidak dapat ditutup dengan seorang penggantinya (orang berilmu juga).
Berkata juga Ali Ra dengan sajak:
Tidaklah kebanggaan selain bagi ahli ilmu…
Mereka memberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk…
Nilai manusia adalah dengan kebaikan yang dikerjakan…
Dan orang orang yang bodoh adalah musuh dari ahli ilmu..
Menanglah engkau dengan Ilmu dan hiduplah dengan lama
Orang lain mati sedangkan ahli ilmu tidak
Berkata Abdul Aswad:
Tidak ada yang lebih mulia dari ilmu. Raja raja itu menghukum manusia dan alim ulama itu menghukum raja raja.
Berkata Ibnu Abbas  Ra
Disuruh memilih Sulaiman Bin Daud As.  antara Ilmu, Harta dan Kerajaan. Maka dipilihlah ilmu lalu dari ilmu tersebut dianugrahkanlah kepadanya Harta, Kerajaan
Ditanya Ibnu Mubarak
Siapakah manusia itu?
Dijawab  :  Orang orang yang berilmu…
Ditanya pula :  Siapakah raja  itu???
Dijawab :  Orang yang Zuhud
Ditanya :  Siapakah orang yang hina itu?
Dijawab :  Mereka yang memakan (memperoleh) dunia dengan agama. maksudnya ” agama dibuat sebagai ajang bisnis *redaksi
Beliau berkata tidak dimasukkan orang yang tidak berilmu terhadap golongan manusia karena yang membedakan manusia dan hewan adalah ILMU,,, maka manusia itu ialah manusia, manusia akan mulia jika berilmu…
Bertanya Fathul-Mausuli  Ra
Bukankah orang sakit itu apabila tak mau makan dan minum, lalu ia mati? “Benar” menjawab orang disekelilingnya
lalu menyambung Fathul – Mausuli Ra  “Begitu pula hati, apabila tak mau kepada hikmah dan ilmu dalam tiga hari, maka matilah hati itu.
Benarlah perkataan itu, karena sesungguhnya makanan hati itu ialah ilmu dan hikmah. Dengan dua itulah maka hiduplah hati, sebagaimana tubuh itu hidup dengan makanan
Orang yang tak berilmu, hatinya menjadi sakit dan kematian hatinya itu suatu keharusan. Tetapi, dia tidak menyadari demikian, karena kecintaan dan kesibukannya dengan dunia, menghilangkan perasaan itu, kadang-kadang menghilangkan kepedihan luka seketika, meskipun luka itu masih ada.
Apabila mati itu telah menghilangkan kesibukan duniawi, lalu ia merasa dengan kebinasaan dan rugi besar. Kemudian, dunia itu tidak bermanfa’at baginya.
Yang demikian itu, seperti : dirasakan oleh orang yang telah aman dari ketakutan dan telah sembuh mabuk, dengan luka-luka yang diperolehnya dahulu sewaktu sedang mabuk dan takut.
Kita berlindung kepada Allah dari hari pembukaan apa yang tertutup. Sesungguhnya manusia itu tertidur, Apabila mati, maka dia terbangun.
Berkata Al-Hassan ra :
“Ditimbang tinta para ulama dengan darah para syuhada’. Maka beratlah timbangan tinta para ulama itu, dari darah para syuhada”
Berkata Ibnu Mas’ud ra :
“Haruslah engkau berilmu sebelum ilmu itu diangkat. Diangkat ilmu adalah dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya!,  Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil, lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama. Karena melihat kemuliaan ulama itu. Sesungguhnya tak ada seorangpun yang dilahirkan berilmu. Karena ilmu itu adalah dengan belajar
Berkata Ibnu Abbas ra :
“Bertukar-pikiran tentang ilmu sebahagian dari malam, lebih aku sukai daripada berbuat ibadah di malam itu” Begitu juga menurut Abu Hurairah ra. dan Ahmad bin Hanbal ra.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Rabbanaa aatinaa fiddun-ya has ana tan wa filaakhirati hasanatan)
QS. Al-Baqarah 201
Artinya :
“Wahai Tuhan kami! Berilah kamikebaikan didunia ini dan kebaikan pula di hari akhirat”
Bahwa kebaikan di dunia itu ialah ilmu dan ibadah, sedang kebaikan di akhirat itu, ialah sorga.
Ditanyakan kepada setengah hukama’ (para ahli hikmah) : “Barang apakah yang dapat disimpan lama?”
Lalu ia menjawab : “Yaitu barang-barang, apabila kapalmu karam, maka dia berenang bersama kamu, yakni : ilmu* Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan karam kapal ialah binasa badan, dengan mati….
Berkata setengah hukama’ : “Barangsiapa membuat ilmu sebagai kekang di mulut kuda, niscaya dia diambil manusia menjadi imam. Dan barangsiapa dikenal dengan hikmahnya, niscaya dia diperhatikan oleh semua mata dengan mulia”
Berkata Imam Asy-Syafi’i ra. :
“Diantara kemuliaan ilmu, ialah bahwa tiap-tiap orang dikatakan berilmu, meskipun dalam soal yang remeh, maka ia gembira. Sebaliknya, apabila dikatakan tidak, maka ia merasa sedih”
Berkata Umar ra. :
“Hai manusia! Haruslah engkau berilmu! Bahwasanya Allah swt. mempunyai selendang yang dikasihiNya. Barangsiapa mencari sebuah pintu dari ilmu, maka ia diselendangi Allah dengan selendangNya. Jika ia berbuat dosa, maka dimintanya kerelaan Allah tiga kali, supaya selendang itu tidak di buka daripadanya dan jika pun berkepanjangan dosanya sampai ia mati”
Berkata Al-Ahnaf ra. :
“Hampirlah orang berilmu itu dianggap sebagai Tuhan. Dan tiap-tiap kemuliaan yang tidak dikuatkan dengan ilmu, maka kehinaanlah kesudahannya”
Berkata Salim bin Abil-Ja’ad :
“Aku dibeli oleh tuanku dengan harga 300 dirham lalu dimerdekakannya aku. Lalu aku bertanya :
“Pekerjaan apakah yang akan aku kerjakan?”. Maka bekerjalah aku dalam lapangan ilmu. Tak sampai setahun kemudian, datanglah berkunjung kepadaku amir kota Madinah. Maka tidak aku izinkan, ia masuk”.
Berkata Zubair bin Abi Bakar :
“Ayahku di Irak menulis surat kepadaku. Isinya diantara lain, yaitu : “Haruslah engkau berilmu! Karena jika engkau memerlukan kepadanya, maka ia menjadi
harta bagimu. Dan jika engkau tidak memerlukan kepadanya, maka ilmu itu menambahkan keelokanmu”
Diceriterakan juga yang demikian dalam nasehat Luqman kepada anaknya. Berkata Luqman : “Hai anakku! Duduklah bersama ulama/ Rapatlah mereka dengan kedua lututmu! Sesungguhnya Allah swt. menghidupkan hati dengan nur-hikmah (sinar ilmu) seperti menghidupkan bumi dengan hujan dari langit”.
Berkata setengah hukama’ :
“Apabila meninggal seorang ahli ilmu, maka ia ditangisi oleh ikan di dalam air dan burung di udara. Wajahnya hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan”.
Berkata Az-Zuhri :
“Ilmu itu jantan dan tidak mencintainya selain oleh laki-laki yang jantan”
Waallahu a’lam bi-showab
YA ALLAH AKU MOHON KEPADAMU AKAN KHUSNUL KHOTIMAH…..  AMINALLAHUMMA… AMIN…

Na’uudzu billaahi min ‘ilmin laa yanfa

“Aku berlindung pada Allah, dari ilmu yang tidak bermanfa’at”

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus
Terjemahan dari kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghozali

100out of 100 based on 99995 ratings. 1 user reviews.

0 komentar:

Posting Komentar